Penyadap Karet Menapak Istana

Billy Arman, Penyadap Karet Menapak Istana

Penulis: Zulfikar Fuad

 

Lahir dari keluarga miskin, Billy Arman bekerja sejak usia 5 tahun, menjadi buruh penyungkil buah kelapa, penyadap karet, pekerja lumbung padi, penjaga durian runtuh, penjaring ikan di laut lepas, penjual es, pedagang roti, dan pedagang asongan di bioskop. Karena tidak punya uang untuk biaya masuk sekolah, di sela-sela berdagang roti, ia belajar membaca, menulis dan berhitung dengan mengintip guru yang sedang mengajar di ruang kelas, dari celah dinding papan sekolah yang berada di tengah sawah. Baru pada usia 14 tahun, ia berkesempatan mengenyam pendidikan formal sekolah dasar.

Billy tumbuh sebagai remaja tangguh dan ambisius, dengan impian besar menjadi pengusaha sukses. Demi mewujudkan impian, ia merantau ke Jakarta, berupaya menaklukkan Ibu Kota. Namun perjalanannya menggapai cita-cita dihadang beragam tantangan. Ia diusir keluarganya, terlunta-lunta, tinggal di pabrik kardus, dan berpindah-pindah untuk sekadar dapat tempat berteduh. Ia bekerja serabutan sebagai buruh bangunan, pemulung, pekerja sablon, asisten satpam, tukang tambal ban, tukang stempel, sales karpet, penjual telepon wireles, dan lain sebagainya. Di tengah perjuangan untuk bertahan hidup di rantau, ia lanjutkan sekolah dan mengikuti kursus bahasa Inggris dengan biaya dari tabungan hasil jerih payahnya bekerja.

Tiga puluh tahun kemudian, kehidupan Billy Arman berubah 180 derajat. Meski pendidikan formalnya hanya sampai tingkat SMA, berkat kerja keras selama tiga dekade yang menguras otak, mengucurkan keringat dan memeras air mata, ia berhasil membangun bisnis di berbagai bidang dengan bendera Tuas Mas Group, memimpin puluhan karyawan yang sebagian besar bergelar sarjana, berkantor di gedung bertingkat di tengah kota Jakarta, dan hampir tiap pekan pergi ke luar negeri untuk meluaskan relasi dan mengembangkan bisnis. Ia juga sempat menjadi asisten pribadi pejabat Istana Presiden dan Wakil Presiden yang mengantarnya masuk dan berperan dalam lingkungan Istana Negara.

Buku ini mengungkap perjuangan putera daerah Pontianak, dengan segala keterbatasan setiap hari sepanjang waktu belajar dan bekerja dengan gigih, tanpa kenal lelah dan kalah, demi mewujudkan impian. Kisahnya disuguhkan terutama untuk kaum muda Indonesia sebagai penyulut api semangat. Siapapun Anda dan betapapun sulitnya tantangan hidup yang Anda hadapi hari ini, selalu ada harapan untuk meraih hidup sukses berkelimpahan yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.